Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut kemacetan di Ibu Kota tidak hanya disebabkan oleh aktivitas warga Jakarta, tetapi juga tingginya mobilitas masyarakat dari wilayah penyangga. Menurutnya, sekitar empat juta komuter masuk ke Jakarta setiap hari dan kembali ke daerah asal pada sore hingga malam hari, sehingga memberikan tekanan besar terhadap jaringan transportasi.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Pramono berdialog dengan warga dalam rangkaian peringatan HUT ke-499 Jakarta. Ia menjelaskan bahwa arus keluar-masuk komuter dari kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menjadi salah satu faktor utama yang memicu kepadatan lalu lintas di berbagai ruas jalan ibu kota.
Untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperluas layanan transportasi umum yang terintegrasi dengan wilayah penyangga. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengembangan layanan Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan sejumlah kota di sekitarnya.
Pramono menilai keberadaan transportasi publik yang semakin luas diharapkan dapat mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal. Dengan demikian, volume kendaraan yang memasuki Jakarta setiap hari dapat ditekan sehingga kemacetan berangsur berkurang.
Selain meningkatkan layanan transportasi, Pemprov DKI juga terus mendorong integrasi antarmoda agar perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah dan efisien. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem mobilitas yang lebih baik bagi warga Jakarta maupun para komuter dari daerah penyangga.
Pramono menegaskan bahwa penanganan kemacetan membutuhkan kerja sama lintas daerah karena mobilitas masyarakat di kawasan Jabodetabek saling berkaitan. Menurutnya, pengembangan transportasi massal yang terintegrasi menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan meningkatkan kualitas mobilitas di kawasan metropolitan.