Jakarta, 31 Agustus 2026 – Film keluarga terbaru berjudul “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?” dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026. Film produksi Falcon Pictures tersebut disutradarai Herwin Novianto dan mengangkat kisah hubungan emosional antara seorang ibu dan anak perempuannya. Cerita berpusat pada perjuangan seorang ibu yang menyadari bahwa waktunya bersama sang anak mungkin tidak akan berlangsung selamanya. Dalam kondisi tersebut, ia berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa untuk membahagiakan putrinya sekaligus mempersiapkannya agar mampu menjalani kehidupan secara mandiri. Kehadiran film ini turut menambah pilihan tontonan bergenre drama keluarga yang mengangkat tema kasih sayang, kehilangan, dan keteguhan seorang ibu.
Cerita film mengikuti kehidupan seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai perancang gaun pengantin dan menjalani kesehariannya bersama putrinya, Rere. Kehidupan mereka digambarkan melalui berbagai momen sederhana yang memperlihatkan kedekatan antara ibu dan anak dalam sebuah keluarga kecil. Namun, keadaan mulai berubah ketika sang ibu menghadapi kenyataan mengenai waktu yang dimilikinya bersama Rere. Situasi tersebut membuatnya tidak hanya memikirkan kondisi dirinya, tetapi juga masa depan anak yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam kehidupannya. Ia kemudian berusaha menyiapkan Rere menghadapi berbagai keadaan yang mungkin terjadi dengan memberikan bekal kemandirian dan pengalaman yang dianggap penting untuk kehidupannya kelak.
Perjalanan emosional dalam film tidak hanya berfokus pada kesedihan akibat kemungkinan perpisahan, tetapi juga memperlihatkan bentuk kasih sayang yang diwujudkan melalui tindakan seorang ibu. Sang ibu berusaha memastikan putrinya memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan tanpa selalu bergantung kepada dirinya. Berbagai persiapan tersebut menjadi bagian dari hubungan mereka yang berkembang sepanjang cerita, mulai dari kebersamaan dalam aktivitas sehari-hari hingga percakapan yang memperlihatkan kedalaman perasaan keduanya. Pendekatan tersebut membuat konflik dalam film tidak semata-mata bertumpu pada kehilangan, melainkan juga pada proses seorang ibu menerima kenyataan dan menyiapkan orang yang paling dicintainya untuk menghadapi masa depan. Tema tersebut menjadi salah satu kekuatan utama film karena memiliki kedekatan dengan pengalaman keluarga dan hubungan antara orang tua dengan anak.
Marsha Timothy dipercaya memerankan karakter ibu dalam film tersebut, sementara Fara Shakila Simatupang berperan sebagai Rere. Keduanya menjadi pusat cerita yang membawa hubungan ibu dan anak sebagai inti perjalanan emosional film. Selain kedua pemeran utama tersebut, film ini juga menghadirkan Praz Teguh, Ivan Gunawan, Sara Wijayanto, dan Kiki Narendra dalam jajaran pemain. Kehadiran para pemeran dengan latar belakang yang beragam diharapkan memberikan warna terhadap cerita sekaligus memperkuat dinamika kehidupan keluarga yang menjadi fokus utama. Dengan kombinasi pemeran senior dan aktris muda, film ini berupaya menghadirkan hubungan antarkarakter yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Herwin Novianto mengatakan film tersebut juga dirancang untuk mengajak penonton mengingat kembali peran ibu dalam kehidupan mereka. Pesan tersebut kemudian diperluas melalui kampanye yang melibatkan masyarakat dengan tema “Apa Jadinya Aku Tanpa Ibu?”. Masyarakat diajak membagikan foto bersama ibu atau foto sang ibu disertai cerita singkat mengenai sosok tersebut melalui media sosial. Dari partisipasi masyarakat yang masuk, sebanyak 100 foto akan dipilih untuk ditampilkan pada bagian akhir film. Konsep tersebut menjadi bentuk pendekatan promosi yang sekaligus berusaha mempertemukan kisah fiksi di layar dengan pengalaman nyata para penonton mengenai hubungan mereka dengan ibu.
Pelibatan cerita masyarakat memberikan dimensi tambahan terhadap tema yang dibawa film karena pengalaman mengenai sosok ibu tentu berbeda bagi setiap orang. Ada yang mengenang ibu melalui dukungan dalam pendidikan, perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga, maupun berbagai pengorbanan yang sering kali berlangsung tanpa banyak diketahui orang lain. Melalui kampanye tersebut, pengalaman personal masyarakat diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan film ketika 100 foto terpilih ditampilkan pada bagian akhir. Cara tersebut juga memperlihatkan upaya rumah produksi membangun keterlibatan penonton sebelum film resmi diputar di bioskop. Selain menjadi bagian dari strategi promosi, kampanye itu dapat memperkuat pesan utama film mengenai pentingnya menghargai kehadiran ibu selama kesempatan untuk bersama masih dimiliki.
“Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?” juga membawa tema tentang kemandirian anak dan tanggung jawab orang tua dalam mempersiapkan masa depan keluarga. Hubungan antara ibu dan anak dalam cerita tidak hanya digambarkan melalui kasih sayang, tetapi juga melalui proses belajar dan persiapan menghadapi perubahan. Sang ibu berusaha memberikan pengalaman yang dapat membantu Rere memahami kehidupan serta menghadapi kondisi yang berada di luar kendalinya. Dari sisi cerita, proses tersebut membuat penonton diajak melihat bahwa cinta orang tua tidak selalu diwujudkan dalam bentuk perlindungan, tetapi juga melalui keberanian memberikan bekal agar anak mampu berdiri sendiri. Konflik yang muncul kemudian berkembang menjadi perjalanan emosional mengenai bagaimana seseorang menghadapi kehilangan sekaligus mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan kepada orang yang dicintainya.
Penayangan film pada 24 September 2026 membuat “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?” menjadi salah satu film keluarga yang dinantikan pada periode tersebut. Dengan menggabungkan drama, hubungan ibu dan anak, serta persoalan mengenai waktu dan kehilangan, film ini menawarkan cerita yang berfokus pada sisi emosional kehidupan keluarga. Kehadiran Marsha Timothy dan Fara Shakila sebagai pemeran utama juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarkarakter yang menjadi pusat cerita. Sementara itu, keterlibatan masyarakat melalui kampanye foto memberikan unsur interaktif yang memperluas tema film dari cerita fiksi menuju pengalaman nyata para penonton. Saat memasuki masa penayangan di bioskop, perhatian akan tertuju pada bagaimana kisah ibu dan Rere diterima oleh penonton serta sejauh mana pesan mengenai kasih sayang, kemandirian, dan penghargaan terhadap orang tua dapat tersampaikan melalui perjalanan kedua tokoh tersebut.