Jakarta, 5 September 2026 – Produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), mengingatkan industri otomotif agar tidak mengorbankan kualitas baterai di tengah persaingan produksi kendaraan listrik yang semakin agresif. Chairman CATL Zeng Yuqun menilai kecepatan pengembangan kendaraan, persaingan spesifikasi, dan tekanan harga telah membuat siklus pengujian sejumlah produk semakin pendek. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko persoalan kualitas ketika baterai diproduksi dalam jumlah sangat besar dan digunakan pada kendaraan secara luas. Peringatan itu disampaikan dalam World Power Battery Conference 2026 di Yibin, Provinsi Sichuan, China. Zeng menekankan bahwa baterai kendaraan listrik membutuhkan tingkat presisi manufaktur yang jauh lebih ketat dibandingkan banyak komponen otomotif biasa. Kesalahan yang terlihat sangat kecil pada tingkat sel dapat berkembang menjadi masalah besar ketika produksi mencapai jutaan hingga miliaran unit.
Pertumbuhan industri kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) China menjadi salah satu latar belakang peringatan tersebut. Sepanjang semester pertama 2026, penjualan NEV di China telah melampaui 7,4 juta unit, menunjukkan skala pasar yang semakin besar dalam waktu relatif singkat. Pada saat bersamaan, lebih dari 600 model kendaraan baru diperkenalkan ke pasar sehingga rata-rata peluncurannya mendekati tiga model setiap hari. Produsen berlomba menghadirkan kendaraan dengan teknologi baru, jarak tempuh lebih panjang, pengisian daya semakin cepat, dan harga semakin kompetitif. Kecepatan tersebut mendorong perusahaan memangkas waktu pengembangan agar produk dapat segera memasuki pasar. Menurut CATL, tekanan semacam ini harus diimbangi dengan sistem validasi yang tetap ketat karena baterai merupakan komponen yang mempunyai pengaruh langsung terhadap performa dan keselamatan kendaraan.
Zeng mengingatkan bahwa siklus validasi yang terlalu pendek dapat membuat sejumlah persoalan baru terlihat setelah produk memasuki produksi massal. Industri baterai menghadapi tantangan berbeda dibandingkan produksi dalam volume kecil karena penyimpangan pada satu tahapan dapat berulang pada jumlah produk yang sangat besar. CATL menyebut telah terdapat sejumlah produk baterai daya di industri yang mengalami persoalan pada tingkat batch ketika skala produksinya meningkat. Namun perusahaan tidak menyebut secara spesifik produsen kendaraan maupun pemasok baterai yang terkait dengan kasus tersebut. Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya mengendalikan seluruh parameter sejak tahap desain hingga produksi. Setiap anomali harus ditemukan sedini mungkin sebelum baterai dikirim dan digunakan pada kendaraan konsumen.
Tingkat presisi yang dibutuhkan dapat terlihat dari target pengendalian cacat yang diterapkan CATL pada produksi sel baterainya. Perusahaan menilai standar parts per million atau PPM yang lazim digunakan dalam sejumlah proses manufaktur belum tentu cukup untuk industri baterai berkapasitas sangat besar. Pada tingkat cacat satu PPM, setiap satu miliar sel yang diproduksi secara teoritis masih dapat menghasilkan hingga 1.000 sel yang tidak memenuhi standar. CATL menyatakan menerapkan target internal jauh lebih ketat, yakni tidak lebih dari satu cacat pada setiap satu miliar sel atau sekitar satu part per billion. Target tersebut merupakan standar pengendalian internal perusahaan dan bukan angka kegagalan kendaraan yang telah diaudit secara independen. Pendekatan sangat ketat dibutuhkan karena satu kendaraan listrik menggunakan banyak sel yang harus bekerja secara konsisten sebagai sebuah sistem.
Karakter baterai membuat kualitas setiap sel mempunyai pengaruh terhadap kinerja keseluruhan paket baterai. Sel-sel dalam sebuah baterai kendaraan terhubung dalam konfigurasi seri maupun paralel untuk menghasilkan kapasitas dan tegangan yang dibutuhkan. Apabila terdapat satu sel dengan kapasitas lebih rendah, hambatan internal lebih tinggi, atau karakteristik berbeda secara signifikan, kinerja keseluruhan sistem dapat ikut terpengaruh. Fenomena tersebut sering digambarkan sebagai barrel effect, ketika kemampuan sebuah sistem dibatasi oleh komponen dengan performa paling rendah. Karena itu, pengendalian kualitas tidak cukup hanya memastikan sebagian besar sel memenuhi spesifikasi. Konsistensi antarsel menjadi faktor yang sangat penting untuk menjaga jarak tempuh, kemampuan pengisian daya, umur baterai, dan stabilitas termal kendaraan.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika industri kendaraan listrik China sedang menghadapi persaingan harga yang sangat ketat. Harga sel lithium iron phosphate atau LFP di pasar China dilaporkan telah berada di bawah 0,35 yuan per watt-hour pada sejumlah segmen, mencerminkan penurunan biaya yang cukup besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Penurunan harga membantu produsen menawarkan kendaraan listrik dengan harga semakin terjangkau, tetapi sekaligus menciptakan tekanan terhadap margin pemasok. CATL mengingatkan bahwa efisiensi biaya tidak boleh diperoleh dengan mengurangi standar material, pengujian, maupun kontrol produksi. Produsen harus mencari efisiensi melalui teknologi, skala produksi, otomatisasi, dan peningkatan proses manufaktur. Keselamatan baterai tetap harus ditempatkan sebagai persyaratan dasar yang tidak dapat dinegosiasikan dalam persaingan harga.
Sejumlah kasus di industri sebelumnya menunjukkan besarnya konsekuensi finansial apabila persoalan kualitas baterai muncul setelah kendaraan beredar. Salah satu sengketa melibatkan perusahaan teknologi mobilitas Viridi E-Mobility Technology yang terafiliasi dengan Geely dan produsen baterai Sunwoda. Perselisihan tersebut berkaitan dengan dugaan masalah pada sel baterai yang dipasok dalam periode 2021 hingga 2023, dengan tuntutan awal mencapai sekitar 2,31 miliar yuan. Persoalan itu kemudian diselesaikan dengan pembayaran ratusan juta yuan setelah memperhitungkan sejumlah nilai yang sebelumnya telah ditanggung. Kasus lain yang melibatkan baterai dari CALB juga berdampak terhadap ratusan ribu kendaraan GAC Aion dengan keluhan yang antara lain berkaitan dengan pembengkakan baterai dan kehilangan daya. Berbagai kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana masalah pada komponen baterai dapat menghasilkan dampak besar ketika produk telah dipasang pada kendaraan dalam volume tinggi.
Untuk mengurangi risiko serupa, CATL membangun mekanisme pemeriksaan internal yang dirancang untuk mencari potensi kegagalan sebelum sebuah produk memasuki tahap berikutnya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah kelompok internal yang bertugas mengambil posisi kritis terhadap rancangan dan proyek baterai. Tim tersebut mencari kemungkinan titik kegagalan tersembunyi dan mempunyai kewenangan untuk menolak pencapaian tahapan proyek maupun pengiriman apabila ditemukan risiko yang dianggap belum terselesaikan. Mekanisme semacam itu sengaja dibuat agar tekanan jadwal peluncuran tidak mengalahkan pertimbangan teknis. CATL menilai setiap proses dan parameter produksi harus dapat dikendalikan secara konsisten sejak pengembangan awal. Prinsip toleransi sangat rendah terhadap cacat menjadi semakin penting ketika perusahaan memasok baterai untuk berbagai produsen kendaraan di banyak negara.
Skala industri baterai global membuat persoalan kualitas mempunyai implikasi yang semakin luas. Kapasitas produksi baterai lithium-ion dunia telah melampaui 4 TWh pada akhir 2025, dengan China menguasai lebih dari 80 persen kapasitas tersebut. Produsen asal China juga menyumbang hampir tiga perempat baterai yang digunakan kendaraan listrik secara global pada 2025. Permintaan terus berkembang seiring peningkatan penjualan kendaraan listrik dan kebutuhan baterai untuk sistem penyimpanan energi. Namun pertumbuhan kapasitas yang sangat cepat juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kelebihan produksi dan persaingan yang tidak sehat. Pemerintah China pada awal 2026 bahkan meminta perusahaan baterai mengoptimalkan kapasitas produksi serta menghindari ekspansi yang tidak terkendali.
Peringatan CATL menunjukkan bahwa tantangan berikutnya bagi industri kendaraan listrik bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi atau menurunkan harga kendaraan. Produsen harus memastikan percepatan inovasi tetap berjalan bersama proses pengujian, validasi, dan kontrol kualitas yang memadai. Semakin besar volume kendaraan listrik yang beredar, semakin besar pula konsekuensi apabila sebuah kelemahan desain atau manufaktur terjadi secara sistematis pada satu batch produksi. Persaingan teknologi diperkirakan tetap meningkat ketika perusahaan mengembangkan baterai LFP generasi baru, sodium-ion, solid-state, serta sistem pengisian berdaya tinggi. CATL menilai kemampuan menghasilkan produk secara cepat harus berjalan bersama tingkat presisi yang semakin tinggi, bukan sebaliknya. Dengan pasar kendaraan listrik yang terus membesar, kualitas dan keselamatan baterai pada akhirnya menjadi faktor utama yang menentukan kepercayaan konsumen terhadap transisi menuju transportasi listrik.