Semarang, 4 September 2026 – Misteri hilangnya Mozza Axillia Gunarsa, perempuan asal Bergas, Kabupaten Semarang, selama lebih dari satu tahun akhirnya menemukan titik terang setelah polisi menangkap seorang pria berinisial MDVA (22) yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan. Terduga pelaku yang diketahui merupakan teman dekat korban ditangkap di kediamannya di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Kamis malam, 3 September 2026. Pengungkapan kasus tersebut berawal dari petunjuk baru berupa percakapan melalui Instagram yang ditemukan pada perangkat elektronik milik orang tua Mozza. Dari komunikasi tersebut, penyidik berhasil mengidentifikasi seseorang yang diduga menjadi salah satu orang terakhir yang berinteraksi dengan korban sebelum menghilang. Penelusuran kemudian membawa polisi kepada MDVA hingga akhirnya terduga pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan.
Mozza sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarganya pada 28 Juni 2025 setelah tidak kembali ke rumah dan sulit dihubungi. Selama lebih dari satu tahun, kepolisian terus melakukan penyelidikan dengan memeriksa keluarga, teman, dan sejumlah pihak yang mengetahui aktivitas terakhir korban. Berbagai lokasi yang diduga berkaitan dengan keberadaan Mozza juga telah ditelusuri, tetapi keberadaannya belum berhasil ditemukan. Perkembangan signifikan baru muncul beberapa pekan terakhir ketika keluarga memberikan informasi mengenai perangkat elektronik yang masih terhubung dengan akun media sosial Mozza. Polisi kemudian memeriksa jejak komunikasi pada perangkat tersebut dan menemukan percakapan Instagram yang dinilai memiliki hubungan kuat dengan aktivitas korban menjelang menghilang.
Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana menjelaskan percakapan tersebut mengarahkan penyidik kepada seseorang yang diketahui berinteraksi dengan Mozza pada periode terakhir sebelum korban dinyatakan hilang. Polisi kemudian mendatangi sebuah rumah kos di kawasan Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, yang pernah ditempati orang tersebut. Ketika penyidik tiba, pria yang dicari ternyata sudah tidak tinggal di tempat tersebut. Polisi kemudian meminta keterangan pemilik kos dan sejumlah orang yang mengenal penghuni sebelumnya untuk memperoleh informasi mengenai identitas serta keberadaannya. Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, diketahui pria yang dicari merupakan warga Kabupaten Blora.
Tim Satreskrim Polres Semarang selanjutnya melakukan penyelidikan di Blora pada 2 dan 3 September 2026. Setelah memastikan keberadaan orang yang dicari, polisi bergerak menuju kediamannya dan mengamankan MDVA pada Kamis malam. Pria berusia 22 tahun tersebut diketahui sehari-hari bekerja serabutan dan disebut memiliki hubungan sebagai teman dekat dengan Mozza. Berdasarkan pemeriksaan awal, MDVA mengakui telah membunuh korban pada 25 Juni 2025. Tanggal tersebut berarti peristiwa terjadi tiga hari sebelum keluarga secara resmi melaporkan Mozza sebagai orang hilang kepada kepolisian pada 28 Juni 2025.
Pemeriksaan awal juga mengungkap bahwa Mozza menemui MDVA di kamar kos yang ketika itu ditempati terduga pelaku di kawasan Jalan Sriwijaya, Kota Semarang. Polisi memperoleh keterangan bahwa keduanya sempat terlibat cekcok sebelum tindakan kekerasan terjadi. Penyidik masih mendalami persoalan yang memicu pertengkaran tersebut untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai motif kejadian. Setelah korban meninggal, terduga pelaku diduga berupaya menyembunyikan jasad dan membawanya meninggalkan kamar kos. Polisi menempatkan pengakuan tersebut sebagai bagian dari informasi penyidikan yang tetap harus diperkuat melalui barang bukti, pemeriksaan forensik, dan keterangan lainnya.
Setelah ditangkap, MDVA kemudian menunjukkan kepada polisi lokasi tempat jasad Mozza diduga dibuang lebih dari satu tahun sebelumnya. Lokasi tersebut berada di lereng atau jurang di sekitar ruas Tol Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Polisi sebenarnya telah mendatangi kawasan tersebut bersama terduga pelaku pada Kamis malam, tetapi proses pencarian tidak langsung dilakukan karena kondisi lokasi gelap dan memiliki medan cukup curam. Operasi kemudian dilanjutkan pada Jumat, 4 September 2026, dengan melibatkan personel kepolisian, tim identifikasi, dan unsur SAR. Kondisi medan membuat petugas harus menggunakan prosedur keselamatan khusus ketika turun menuju titik yang ditunjukkan terduga pelaku.
Dalam proses pencarian tersebut, petugas menemukan kerangka manusia dalam kondisi relatif lengkap dari bagian kepala hingga kaki. Di sekitar kerangka juga ditemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan korban, termasuk pakaian dan jepit rambut. Temuan tersebut kemudian dievakuasi dari lereng dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan forensik. Keluarga mengenali sejumlah karakteristik yang ditemukan, termasuk kondisi gigi dan barang pribadi, sebagai ciri yang sesuai dengan Mozza. Meski demikian, kepolisian tidak hanya mengandalkan pengenalan visual maupun pengakuan terduga pelaku untuk memastikan identitas kerangka tersebut.
Sampel telah diambil untuk menjalani pemeriksaan DNA sebagai bagian dari proses identifikasi ilmiah. Langkah tersebut diperlukan untuk memperoleh kepastian bahwa kerangka yang ditemukan memang merupakan Mozza sebelum hasilnya digunakan dalam proses hukum. Pemeriksaan forensik juga berpotensi memberikan informasi tambahan mengenai kondisi korban serta berbagai aspek yang berkaitan dengan kematiannya. Polisi menegaskan pengakuan seseorang tetap harus didukung alat bukti lain agar konstruksi perkara memiliki dasar pembuktian yang kuat. Karena itu, penyidik masih mengumpulkan dan mencocokkan hasil pemeriksaan tempat kejadian, bukti elektronik, keterangan saksi, barang yang ditemukan bersama kerangka, serta hasil forensik.
Percakapan Instagram menjadi bagian penting dalam terungkapnya kasus setelah penyelidikan berlangsung lebih dari satu tahun. Bukti digital tersebut membantu polisi merekonstruksi komunikasi korban menjelang menghilang dan mempersempit pencarian terhadap orang yang terakhir berinteraksi dengannya. Kasus ini menunjukkan bagaimana jejak komunikasi digital dapat tetap memberikan petunjuk meskipun sebuah peristiwa telah berlangsung cukup lama. Penyidik selanjutnya perlu memeriksa percakapan tersebut secara menyeluruh untuk mengetahui konteks hubungan antara korban dan terduga pelaku. Perangkat elektronik serta data lain yang relevan juga dapat digunakan untuk mencocokkan waktu, komunikasi, dan pergerakan sebelum maupun setelah korban dinyatakan hilang.
Penangkapan MDVA dan ditemukannya kerangka manusia di kawasan Tol Jangli menjadi perkembangan terbesar sejak keluarga melaporkan hilangnya Mozza pada Juni 2025. Polisi kini memusatkan penyidikan pada penguatan alat bukti, pemeriksaan forensik, pendalaman motif, serta rekonstruksi seluruh rangkaian peristiwa sebelum menentukan proses hukum berikutnya terhadap terduga pelaku. Hasil DNA juga menjadi bagian penting untuk memberikan kepastian ilmiah mengenai identitas kerangka yang telah dievakuasi. Setelah lebih dari satu tahun tanpa kepastian mengenai keberadaan Mozza, jejak percakapan Instagram akhirnya membuka arah baru yang membawa penyidik kepada teman dekat korban dan lokasi pembuangan jasad yang ditunjukkannya. Pengembangan penyidikan diharapkan dapat mengungkap secara lengkap rangkaian kejadian sekaligus memberikan kepastian hukum kepada keluarga korban.