Jakarta, 23 September 2026 – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengusulkan pengembangan kerja sama antara Indonesia dan Belarus di sektor pupuk potasium sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Kerja sama tersebut dinilai dapat membuka peluang untuk memperluas akses Indonesia terhadap bahan baku pupuk yang dibutuhkan sektor pertanian. Potasium merupakan salah satu unsur penting dalam pemenuhan nutrisi tanaman dan digunakan pada berbagai komoditas pertanian maupun perkebunan. Belarus memiliki potensi besar dalam industri potasium sehingga dinilai dapat menjadi salah satu mitra yang relevan bagi Indonesia. Pembahasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan ekonomi kedua negara.
Pengembangan kerja sama tidak hanya dapat diarahkan pada perdagangan pupuk dalam bentuk produk jadi. Indonesia memiliki kepentingan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus mengembangkan kapasitas industri pupuk di dalam negeri. Karena itu, peluang investasi, pengolahan, transfer pengetahuan, hingga pengembangan teknologi dapat menjadi bagian dari pembicaraan lebih lanjut. Pendekatan tersebut memungkinkan hubungan ekonomi menghasilkan manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar transaksi impor dan ekspor. Kerja sama jangka panjang juga dapat memberikan kepastian pasokan bagi sektor pertanian nasional.
Ketersediaan pupuk memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian dan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Gangguan pasokan maupun perubahan harga bahan baku di pasar internasional dapat memengaruhi biaya produksi petani. Diversifikasi negara pemasok menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber tertentu sekaligus meningkatkan ketahanan rantai pasok. Kerja sama dengan Belarus dapat menjadi bagian dari strategi tersebut apabila mampu menghasilkan pasokan yang kompetitif dan berkelanjutan. Pemerintah tetap perlu mempertimbangkan aspek harga, kebutuhan nasional, distribusi, serta keberlanjutan pasokan.
Potasium sendiri berperan dalam mendukung berbagai proses pertumbuhan tanaman, termasuk membantu menjaga keseimbangan air dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kondisi lingkungan tertentu. Kebutuhan terhadap unsur tersebut membuat pupuk berbasis potasium menjadi salah satu komponen penting dalam kegiatan budidaya. Indonesia memiliki sektor pertanian dan perkebunan yang luas sehingga kepastian pasokan bahan baku pupuk menjadi kebutuhan jangka panjang. Pengembangan kerja sama internasional dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus memberikan alternatif sumber pasokan. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanah dan tanaman agar pemupukan berlangsung efektif.
Bappenas juga mendorong agar penguatan hubungan dengan Belarus dapat ditempatkan dalam kerangka pembangunan ekonomi yang lebih luas. Kerja sama sektor pupuk berpotensi dihubungkan dengan investasi industri, teknologi pertanian, peningkatan produktivitas, serta pengembangan sumber daya manusia. Kedua negara dapat mengidentifikasi bidang yang memberikan manfaat timbal balik dan memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertemuan antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi penting untuk menerjemahkan potensi tersebut menjadi proyek konkret. Kepastian regulasi dan model bisnis nantinya akan menjadi faktor penting bagi realisasi kerja sama.
Dari sisi Indonesia, pengembangan industri pupuk juga perlu mempertimbangkan efisiensi logistik dan distribusi hingga tingkat petani. Ketersediaan bahan baku dalam jumlah cukup belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan apabila distribusinya tidak berjalan efektif. Infrastruktur pelabuhan, penyimpanan, transportasi, dan jaringan distribusi perlu mendukung setiap rencana peningkatan pasokan. Pemerintah juga perlu memastikan kerja sama internasional selaras dengan kebutuhan industri pupuk nasional dan kebijakan pertanian. Integrasi antara perencanaan pasokan dan kebutuhan lapangan dapat membantu menjaga ketersediaan pupuk secara lebih stabil.
Usulan kerja sama pupuk potasium dengan Belarus pada akhirnya menjadi salah satu peluang untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia melalui diversifikasi pasokan dan pengembangan industri. Tahapan berikutnya membutuhkan pembahasan lebih rinci mengenai kebutuhan, skema investasi, harga, teknologi, serta mekanisme perdagangan yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara. Pemerintah dan pelaku industri juga perlu mengkaji kelayakan ekonomi sebelum kerja sama diwujudkan dalam proyek jangka panjang. Jika dikembangkan secara terukur, kemitraan tersebut dapat mendukung ketersediaan input pertanian sekaligus memperluas hubungan ekonomi Indonesia dan Belarus. Langkah itu diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan rantai pasok pupuk nasional.