Jakarta, 4 September 2026 – GoFood berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Indonesian E-Commerce Association (idEA) untuk mendorong semakin banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan bisnis. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas pemahaman pelaku usaha mengenai pemasaran digital, pengelolaan bisnis, pemanfaatan platform daring, hingga strategi menjangkau konsumen yang lebih luas. Digitalisasi dinilai semakin penting karena perilaku masyarakat dalam mencari, memilih, dan membeli makanan telah banyak bergeser ke kanal digital. Bagi UMKM kuliner, perubahan tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan untuk meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi secara efektif. Melalui sinergi pemerintah, platform digital, dan asosiasi industri, pelaku UMKM diharapkan tidak sekadar masuk ke ekosistem daring, tetapi juga mampu mengoptimalkannya untuk memperkuat keberlanjutan usaha. Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas transformasi digital hingga menjangkau pelaku usaha skala kecil.
Kolaborasi tersebut menempatkan edukasi sebagai salah satu fondasi penting dalam proses UMKM menuju ekosistem digital. Sebagian pelaku usaha kuliner sebenarnya telah menggunakan media sosial atau aplikasi digital, tetapi belum seluruhnya memahami bagaimana memanfaatkan kanal tersebut untuk meningkatkan penjualan dan efisiensi operasional. Digitalisasi bukan hanya mengenai membuka toko di platform daring, melainkan juga bagaimana pelaku usaha mengelola menu, menentukan harga, memberikan pelayanan, membaca kebutuhan konsumen, dan membangun reputasi. Kemampuan tersebut membutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan agar teknologi benar-benar memberikan nilai tambah. Pendampingan juga dibutuhkan karena karakter dan tingkat kesiapan setiap UMKM berbeda. Pelaku usaha yang baru mengenal platform digital tentu membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan mereka yang telah lama menjalankan penjualan secara daring.
GoFood membawa pengalaman ekosistem layanan pesan-antar makanan yang telah digunakan berbagai skala usaha kuliner. Platform digital memungkinkan UMKM memperoleh akses kepada konsumen di luar pelanggan yang biasanya datang langsung ke lokasi usaha. Warung, restoran kecil, usaha rumahan, hingga berbagai bisnis kuliner lokal dapat memperluas jangkauan tanpa harus membuka cabang fisik baru. Namun keberhasilan di platform tetap membutuhkan pengelolaan yang baik karena konsumen mempunyai banyak pilihan dalam satu aplikasi. Tampilan menu, foto produk, informasi harga, kecepatan pelayanan, ketersediaan makanan, serta penilaian pelanggan dapat memengaruhi keputusan pembelian. Karena itu, kemampuan mengelola etalase digital menjadi keterampilan baru yang semakin relevan bagi pelaku UMKM kuliner.
Kemendag memiliki peran dalam memperkuat ekosistem perdagangan digital sekaligus memastikan pelaku UMKM mendapatkan kesempatan berkembang di tengah perubahan pola perdagangan. Pemerintah terus mendorong transformasi digital karena sektor UMKM menjadi salah satu penopang penting aktivitas ekonomi nasional. Ketika semakin banyak usaha kecil mampu memanfaatkan teknologi, peluang memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas juga semakin terbuka. Namun transformasi tersebut perlu dilakukan secara inklusif agar kesenjangan kemampuan digital tidak membuat sebagian pelaku usaha tertinggal. Program edukasi dan pendampingan menjadi salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan tersebut. Pemerintah juga mendorong pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk dan tata kelola agar mampu bersaing ketika pasar menjadi semakin terbuka.
Sementara itu, idEA berperan menjembatani kepentingan pelaku industri perdagangan elektronik dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi digital. Keterlibatan asosiasi memungkinkan program edukasi mendapatkan perspektif lebih luas mengenai perkembangan perdagangan berbasis teknologi. UMKM dapat memperoleh pemahaman mengenai karakter konsumen digital, perubahan tren, hingga pentingnya membangun bisnis yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan platform. Kolaborasi lintas sektor juga membuat proses digitalisasi tidak berjalan secara terpisah antara pemerintah dan industri. Tantangan yang ditemukan pelaku usaha dapat menjadi masukan dalam menyusun program pengembangan berikutnya. Dengan demikian, digitalisasi dapat diarahkan berdasarkan kebutuhan nyata UMKM di lapangan.
Bagi usaha kuliner, pemanfaatan data menjadi salah satu keuntungan penting ketika mulai menjalankan bisnis melalui kanal digital. Pelaku usaha dapat melihat produk yang paling banyak diminati, waktu dengan jumlah pesanan tinggi, hingga pola pembelian konsumen. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan strategi operasional maupun pemasaran secara lebih terukur. Misalnya, pemilik usaha dapat menyiapkan stok lebih banyak untuk menu yang memiliki permintaan tinggi atau merancang promosi pada periode dengan transaksi lebih rendah. Data juga membantu pelaku UMKM mengevaluasi produk tanpa hanya mengandalkan perkiraan. Kemampuan membaca informasi tersebut menjadi bagian dari peningkatan kapasitas yang dibutuhkan ketika bisnis semakin terhubung dengan teknologi.
Digitalisasi juga dapat membantu UMKM melakukan promosi dengan pendekatan yang lebih fleksibel. Usaha kecil yang sebelumnya hanya mengandalkan lokasi strategis atau rekomendasi dari mulut ke mulut kini memiliki kesempatan muncul di hadapan konsumen yang belum pernah mengenal produknya. Program promosi pada platform dapat digunakan untuk memperkenalkan menu tertentu, meningkatkan transaksi pada periode tertentu, atau menarik konsumen baru. Namun promosi tetap harus dihitung berdasarkan struktur biaya agar peningkatan penjualan tidak justru menekan keuntungan. Pelaku usaha perlu memahami harga pokok, biaya operasional, biaya kemasan, serta komponen lain sebelum menentukan strategi diskon. Literasi bisnis tersebut menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menggunakan teknologi.
Selain memperluas pasar, transformasi digital membuka kesempatan bagi UMKM kuliner membangun merek secara lebih kuat. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar dapat berkembang menjadi merek lokal dengan jangkauan konsumen lebih luas apabila kualitas dan pelayanan dipertahankan. Konsistensi rasa, kemasan, identitas visual, komunikasi dengan pelanggan, dan kemampuan menjaga reputasi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Platform digital membuat pengalaman konsumen dapat tercermin melalui penilaian dan ulasan yang kemudian dilihat calon pembeli lainnya. Kondisi tersebut memberikan keuntungan kepada usaha dengan pelayanan baik, tetapi sekaligus menuntut pelaku UMKM lebih responsif terhadap keluhan. Reputasi digital pada akhirnya menjadi aset yang dapat memengaruhi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Tantangan digitalisasi tetap perlu diperhatikan karena tidak semua pelaku UMKM memiliki perangkat, pengetahuan, modal, maupun sumber daya manusia yang sama. Sebagian usaha masih dijalankan sendiri atau hanya dibantu beberapa anggota keluarga sehingga pengelolaan pesanan digital dapat menambah kompleksitas operasional. Ketika pesanan meningkat, pelaku usaha harus mampu menjaga waktu penyajian tanpa menurunkan kualitas makanan. Penggunaan teknologi juga perlu disertai pemahaman mengenai keamanan akun dan transaksi agar pelaku usaha terhindar dari berbagai bentuk penipuan digital. Pendampingan yang berkelanjutan karena itu lebih dibutuhkan daripada sekadar memperkenalkan aplikasi. Transformasi yang berhasil terjadi ketika teknologi dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas usaha sehari-hari secara efisien dan berkelanjutan.
Kolaborasi GoFood, Kemendag, dan idEA diharapkan mempercepat proses tersebut sekaligus membuka kesempatan lebih besar bagi UMKM kuliner untuk naik kelas. Pelaku usaha didorong tidak hanya menjadi pengguna platform digital, tetapi memahami strategi bisnis yang diperlukan untuk memanfaatkan teknologi secara maksimal. Akses pasar yang lebih luas dapat dikombinasikan dengan pengelolaan berbasis data, promosi yang terukur, peningkatan pelayanan, dan pembangunan merek agar pertumbuhan usaha berlangsung lebih sehat. Pemerintah dan industri juga memiliki kepentingan memastikan transformasi digital dapat menjangkau UMKM dari berbagai tingkat kesiapan. Dengan pendampingan dan literasi yang semakin kuat, pelaku kuliner lokal memiliki peluang lebih besar memperluas pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penjualan secara konvensional. Sinergi tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membangun ekosistem perdagangan digital yang semakin inklusif sekaligus memperkuat daya saing UMKM kuliner Indonesia.