Singapura, 28 September 2026 – Harga minyak dunia menguat lebih dari satu persen pada perdagangan Senin (28/9) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Minyak mentah berjangka Brent naik 1,82 dolar AS atau 1,74 persen menjadi 106,14 dolar AS per barel pada pukul 22.02 GMT. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,14 dolar AS atau 1,23 persen menjadi 93,55 dolar AS per barel. Penolakan proposal tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan proposal tersebut antara lain mencakup pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi terhadap penjualan minyak, serta pemberlakuan gencatan senjata yang juga mencakup Lebanon. Iran juga menawarkan dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir setelah pembukaan jalur pelayaran tersebut. Proposal itu telah disampaikan kepada Washington melalui mediator.
Trump pada Sabtu (26/9) mengatakan telah menolak proposal terbaru Iran tersebut. Ia menyatakan terbuka terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan, tetapi menilai proposal yang diajukan Teheran belum dapat diterima oleh Washington. Meski proposal itu ditolak, jalur diplomasi antara kedua negara belum sepenuhnya tertutup. Trump kemudian mengatakan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran masih diperkirakan berlangsung pada pekan ini melalui mediator regional.
Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dan produk energi dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Gangguan terhadap arus kapal melalui kawasan tersebut dapat membatasi pasokan yang tersedia di pasar global. Ketidakpastian mengenai waktu normalisasi lalu lintas pelayaran karena itu menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak.
Meski kondisi Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali seperti sebelum konflik, pengiriman minyak melalui jalur tersebut mulai meningkat. Puluhan kapal tanker dilaporkan telah melintas dengan perlindungan Amerika Serikat, membawa jutaan barel minyak menuju pasar global. Namun, volume lalu lintas masih berada di bawah tingkat sebelum konflik sehingga risiko pasokan belum sepenuhnya mereda. Perubahan situasi keamanan di jalur tersebut tetap menjadi perhatian utama pasar energi.
Harga minyak juga dipengaruhi perkembangan konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung bersamaan dengan perkembangan keamanan di kawasan yang melibatkan sejumlah pihak lainnya. Kondisi tersebut membuat pasar sensitif terhadap pernyataan politik maupun perkembangan diplomatik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi. Setiap perubahan terkait Selat Hormuz dapat dengan cepat tercermin pada pergerakan harga minyak mentah internasional.
Pergerakan minyak dalam beberapa hari mendatang akan banyak bergantung pada perkembangan komunikasi Washington dan Teheran serta kondisi pelayaran melalui Selat Hormuz. Upaya mediasi masih berlangsung meskipun proposal awal Iran ditolak oleh Trump. Apabila pembicaraan menghasilkan kemajuan menuju pembukaan jalur tersebut secara lebih luas, tekanan terhadap pasokan dapat berkurang, sedangkan meningkatnya ketegangan dapat kembali menambah risiko gangguan. Pasar kini menantikan perkembangan negosiasi berikutnya untuk menilai arah pasokan dan harga minyak global.