Jakarta, 9 Oktober 2026 – Menteri Perindustrian (Menperin) menegaskan bahwa transformasi menuju industri hijau menjadi salah satu peluang ekonomi baru yang dapat mendorong pertumbuhan sektor manufaktur nasional. Perubahan menuju proses produksi yang lebih ramah lingkungan dinilai tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi dampak aktivitas industri terhadap lingkungan, tetapi juga membuka kesempatan investasi dan pengembangan teknologi. Pemerintah terus mendorong pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi serta sumber daya dalam kegiatan produksi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah perubahan kebutuhan pasar global. Transformasi industri hijau diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Perkembangan industri hijau menjadi perhatian karena semakin banyak negara dan perusahaan internasional menerapkan standar keberlanjutan dalam kegiatan perdagangan. Produk manufaktur tidak lagi hanya dinilai berdasarkan harga dan kualitas, tetapi juga berdasarkan proses produksi serta dampaknya terhadap lingkungan. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk menyesuaikan teknologi dan sistem operasional agar memenuhi persyaratan pasar. Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan perubahan tersebut melalui penguatan industri yang menggunakan energi lebih efisien dan menghasilkan emisi lebih rendah. Namun, proses transformasi membutuhkan kesiapan teknologi, pembiayaan, dan sumber daya manusia yang memadai.
Menteri Perindustrian menilai pengembangan industri hijau dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui terciptanya berbagai kegiatan usaha baru. Kebutuhan terhadap teknologi hemat energi, pengolahan limbah, penggunaan bahan baku berkelanjutan, dan sistem produksi rendah emisi membuka ruang bagi pengembangan industri pendukung. Perusahaan yang mampu menyediakan teknologi maupun layanan tersebut berpotensi memperoleh peluang pasar yang semakin luas. Selain itu, transformasi industri dapat mendorong inovasi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dengan demikian, penerapan prinsip keberlanjutan dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan produktivitas dan daya saing nasional.
Salah satu aspek penting dalam transformasi industri hijau adalah peningkatan efisiensi energi pada sektor manufaktur. Industri yang membutuhkan energi dalam jumlah besar memiliki peluang untuk mengurangi konsumsi melalui modernisasi mesin dan perbaikan proses produksi. Penggunaan sumber energi yang lebih bersih juga dapat dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan serta kesiapan masing-masing perusahaan. Efisiensi tersebut berpotensi membantu menekan biaya operasional dalam jangka panjang sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Namun, investasi awal yang dibutuhkan untuk mengganti teknologi lama masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha.
Pemerintah juga perlu memperhatikan kesiapan industri kecil dan menengah dalam menghadapi perubahan menuju proses produksi yang lebih ramah lingkungan. Tidak semua perusahaan memiliki kemampuan pembiayaan dan akses teknologi yang sama untuk melakukan modernisasi fasilitas. Oleh karena itu, dukungan berupa pendampingan teknis, peningkatan keterampilan, dan akses terhadap pembiayaan menjadi faktor penting dalam memperluas penerapan industri hijau. Pelaku usaha juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai standar lingkungan serta manfaat ekonomi dari penerapan teknologi baru. Dengan pendekatan yang inklusif, transformasi diharapkan tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga memberikan kesempatan bagi industri berskala lebih kecil.
Selain meningkatkan efisiensi produksi, transformasi industri hijau dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok internasional. Sejumlah pasar ekspor semakin memperhatikan jejak karbon dan penggunaan sumber daya dalam proses pembuatan barang. Perusahaan yang mampu memenuhi persyaratan keberlanjutan berpotensi memiliki akses lebih baik terhadap pembeli dan mitra usaha global. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi sektor manufaktur nasional untuk meningkatkan standar pengelolaan lingkungan. Penguatan sertifikasi, transparansi proses produksi, dan penerapan teknologi bersih dapat membantu meningkatkan kepercayaan terhadap produk industri Indonesia.
Pengembangan industri hijau juga berkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai perkembangan teknologi. Perubahan sistem produksi membutuhkan kemampuan dalam pengelolaan energi, pengendalian emisi, pemanfaatan bahan baku, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular. Lembaga pendidikan dan pelatihan memiliki peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan dapat membantu mempercepat penguasaan teknologi industri berkelanjutan. Dengan tenaga kerja yang kompeten, transformasi diharapkan mampu menciptakan kesempatan kerja baru sekaligus meningkatkan produktivitas sektor manufaktur.
Pernyataan Menteri Perindustrian mengenai peluang ekonomi dari transformasi industri hijau menunjukkan pentingnya mengintegrasikan pertumbuhan industri dengan perlindungan lingkungan. Pemerintah diharapkan terus memperkuat kebijakan yang mendukung investasi teknologi bersih, efisiensi sumber daya, dan pengembangan industri bernilai tambah. Pelaku usaha juga perlu melakukan penyesuaian secara bertahap agar perubahan proses produksi dapat berjalan sesuai kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Keberhasilan transformasi akan bergantung pada konsistensi kebijakan, kesiapan pembiayaan, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Melalui pengembangan industri hijau yang terencana, Indonesia berpeluang memperkuat daya saing manufaktur sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.