Jakarta, 2 September 2026 – Ridho Rahmadi mengungkap pesan yang diterimanya dari Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais setelah memutuskan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Ummat. Ridho mengatakan keputusan tersebut telah dibicarakan secara internal dan diterima dengan baik oleh jajaran Majelis Syura. Amien disebut memahami kondisi serta pertimbangan yang membuat menantunya tersebut tidak lagi melanjutkan tugas sebagai pemimpin partai. Ridho mengajukan pengunduran diri secara tertulis bersama Sekretaris Jenderal Partai Ummat Taufik Hidayat pada 20 Agustus 2026. Pengunduran diri keduanya kemudian diterima melalui Musyawarah Majelis Syura ke-8 yang digelar pada 26 Agustus 2026. Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri masa kepemimpinan Ridho yang telah berlangsung sejak Partai Ummat dideklarasikan pada 29 April 2021. Meski tidak lagi menjadi ketua umum, Ridho memastikan hubungannya dengan Amien dan jajaran partai tetap berjalan baik tanpa adanya persoalan politik yang melatarbelakangi keputusannya.
Ridho menjelaskan Amien memberikan pesan agar dirinya tetap memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui bidang yang saat ini sedang ditekuninya. Latar belakang Ridho sebagai akademisi dan pakar teknologi menjadi salah satu alasan dirinya kembali memberikan perhatian lebih besar terhadap dunia pendidikan serta pengembangan kecerdasan buatan. Dalam sekitar satu tahun terakhir, Ridho menjalankan tugas sebagai Direktur Politeknik Artificial Intelligence Budi Mulia Dua di Yogyakarta. Posisi tersebut membutuhkan perhatian besar karena institusi yang dipimpinnya masih berada dalam tahap pengembangan. Pada saat bersamaan, tugas sebagai Ketua Umum Partai Ummat juga membutuhkan mobilitas tinggi dan keterlibatan langsung dalam berbagai agenda organisasi. Ridho akhirnya menilai dua tanggung jawab besar tersebut sulit dijalankan secara bersamaan tanpa mengorbankan salah satunya. Amien disebut menghormati pilihan tersebut dan mendorong Ridho tetap memberikan manfaat melalui jalur pendidikan dan teknologi yang menjadi bidang keahliannya.
Kesulitan membagi waktu, tenaga, dan pikiran menjadi alasan utama di balik pengunduran diri Ridho. Selama menjalankan dua tanggung jawab sekaligus, dirinya harus melakukan perjalanan antara Yogyakarta dan Jakarta untuk menghadiri berbagai kegiatan partai maupun menjalankan pekerjaan di lingkungan pendidikan. Aktivitas tersebut berlangsung cukup intensif dan akhirnya memberikan dampak terhadap kondisi fisiknya. Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Ummat Ansufri Idrus Sambo sebelumnya menjelaskan Ridho menjadi lebih sering mengalami gangguan kesehatan karena beban kegiatan yang cukup tinggi. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan ketika Ridho membicarakan masa depannya di dalam partai. Menurut Sambo, baik tugas sebagai ketua umum maupun direktur politeknik sama-sama membutuhkan konsentrasi penuh sehingga sulit dijalankan secara bersamaan dalam jangka panjang. Ridho akhirnya memilih mengurangi beban organisasi agar dapat memberikan perhatian lebih besar kepada bidang yang sedang dikembangkannya. Keputusan tersebut disebut telah melalui pertimbangan pribadi dan keluarga sebelum disampaikan secara resmi kepada Majelis Syura.
Pengunduran diri Ridho juga diikuti Taufik Hidayat dari jabatan Sekretaris Jenderal Partai Ummat. Taufik menjelaskan dirinya mundur karena sejak awal terpilih dalam satu paket kepemimpinan bersama Ridho. Dengan mundurnya ketua umum, Taufik menilai dirinya juga perlu menyerahkan kembali mandat kepada Majelis Syura sehingga organisasi dapat melakukan penataan kepemimpinan secara menyeluruh. Surat pengunduran diri keduanya diterima secara resmi dan pemberhentian dilakukan dengan hormat. Partai kemudian mengambil langkah cepat untuk mencegah kekosongan kepemimpinan di tingkat pusat. Sekretaris Majelis Syura Ansufri Idrus Sambo ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Ummat. Sementara itu, Muhammad Sadiq dipercaya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal. Pergantian tersebut diharapkan membuat aktivitas organisasi tetap berjalan sambil partai mempersiapkan mekanisme untuk menentukan kepemimpinan definitif.
Amien Rais sebagai Ketua Majelis Syura turut menandatangani keputusan yang menerima pengunduran diri Ridho dan Taufik. Dalam keputusan tersebut, Majelis Syura menyatakan menghormati pilihan kedua pengurus untuk melepaskan jabatan mereka. Sikap tersebut menunjukkan pergantian kepemimpinan dilakukan melalui mekanisme internal dan tidak disertai konflik terbuka di antara jajaran elite partai. Ridho juga menegaskan dirinya tidak meninggalkan posisi ketua umum karena adanya perselisihan dengan Amien maupun pengurus lainnya. Keputusan lebih banyak berkaitan dengan persoalan pembagian waktu serta pilihan untuk memberikan perhatian kepada dunia pendidikan dan teknologi. Penjelasan tersebut menjadi penting karena posisi Ridho selama ini memiliki hubungan khusus dengan Amien yang tidak hanya menjadi pendiri dan Ketua Majelis Syura Partai Ummat, tetapi juga merupakan mertuanya. Situasi tersebut sempat membuat keputusan pengunduran diri Ridho menjadi perhatian karena muncul berbagai spekulasi mengenai kondisi internal partai. Namun, jajaran Partai Ummat menegaskan proses pergantian berlangsung secara baik dan telah diselesaikan melalui forum resmi organisasi.
Ridho sendiri memiliki perjalanan yang cukup unik sebelum akhirnya memimpin Partai Ummat. Sebelum terjun lebih jauh ke dunia politik, ia lebih dikenal sebagai akademisi dan peneliti yang menekuni bidang teknologi informasi serta kecerdasan buatan. Ridho menyelesaikan pendidikan tinggi hingga jenjang doktor dan memiliki pengalaman penelitian di luar negeri sebelum kembali ke Indonesia. Keterlibatannya dalam pembentukan Partai Ummat awalnya juga banyak berkaitan dengan kemampuan teknologi yang dimilikinya. Ia membantu menyiapkan berbagai sistem digital untuk kebutuhan internal partai, termasuk platform teknologi yang digunakan untuk pengelolaan data dan kegiatan organisasi. Dari keterlibatan tersebut, namanya kemudian muncul sebagai salah satu calon pemimpin ketika Partai Ummat mempersiapkan deklarasi. Ridho akhirnya dipercaya menjadi ketua umum pertama ketika partai tersebut resmi dideklarasikan pada April 2021. Saat itu, dirinya menjadi salah satu ketua umum partai politik termuda di Indonesia.
Selama lebih dari lima tahun memimpin, Ridho menghadapi berbagai fase perkembangan Partai Ummat sebagai organisasi politik baru. Salah satu tantangan terbesar adalah membangun struktur organisasi dari tingkat pusat hingga daerah sekaligus mempersiapkan partai menghadapi kontestasi elektoral. Partai Ummat kemudian mengikuti Pemilu 2024 setelah melalui proses verifikasi sebagai peserta pemilu. Ridho juga maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Barat II dan memperoleh lebih dari 10 ribu suara. Namun, Partai Ummat tidak berhasil melewati ambang batas parlemen nasional sehingga tidak memperoleh kursi di DPR RI. Hasil tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi bagi organisasi dalam menentukan strategi politik berikutnya. Setelah pemilu, Ridho tetap memimpin partai sambil mulai kembali memberikan perhatian lebih besar terhadap bidang pendidikan dan kecerdasan buatan. Bertambahnya tanggung jawab profesional tersebut kemudian membuat pembagian waktunya semakin sulit hingga akhirnya memilih melepaskan jabatan ketua umum.
Keputusan Ridho kembali fokus kepada teknologi juga memiliki kaitan kuat dengan perjalanan akademiknya selama bertahun-tahun. Bidang kecerdasan buatan telah menjadi fokus pendidikan dan penelitiannya jauh sebelum dirinya masuk ke dunia politik praktis. Perkembangan AI yang semakin cepat membuat kebutuhan terhadap tenaga ahli dan institusi pendidikan khusus di bidang tersebut terus meningkat. Ridho melihat pendidikan sebagai ruang lain untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat, terutama dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi. Posisi sebagai direktur politeknik membuat dirinya harus terlibat dalam pembangunan kurikulum, pengembangan institusi, pengelolaan tenaga pengajar, serta berbagai kegiatan akademik. Tanggung jawab tersebut membutuhkan kehadiran lebih konsisten di Yogyakarta sehingga sulit dikombinasikan dengan agenda politik nasional yang banyak berlangsung di Jakarta. Pilihan untuk mundur dari ketua umum akhirnya memberikan ruang lebih besar baginya untuk menjalankan tugas tersebut. Pesan Amien agar Ridho tetap memberikan manfaat kepada masyarakat menjadi salah satu dukungan yang menyertai keputusan tersebut.
Bagi Partai Ummat, perubahan kepemimpinan terjadi ketika partai sedang mempersiapkan konsolidasi untuk menghadapi agenda politik mendatang. Penunjukan Ansufri Idrus Sambo sebagai pelaksana tugas diharapkan memastikan kegiatan partai tidak mengalami kekosongan selama proses transisi. Sambo sebelumnya memiliki posisi strategis sebagai Sekretaris Majelis Syura sehingga dinilai memahami struktur organisasi serta arah kebijakan partai. Tugas awal kepemimpinan sementara adalah menjaga komunikasi dengan pengurus daerah dan memastikan program yang sudah direncanakan tetap berjalan. Konsolidasi menjadi penting karena pergantian ketua umum dan sekretaris jenderal secara bersamaan dapat memengaruhi koordinasi apabila tidak segera ditangani. Majelis Syura juga memiliki peran menentukan mekanisme berikutnya untuk memilih atau menetapkan kepemimpinan definitif sesuai aturan organisasi. Partai perlu memastikan pergantian tersebut tidak mengganggu persiapan menghadapi agenda politik dan konsolidasi struktur di daerah. Transisi yang berlangsung tertib dapat menjadi kesempatan melakukan evaluasi terhadap strategi setelah pengalaman mengikuti Pemilu 2024.
Pengunduran diri Ridho juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi seorang pemimpin partai ketika menjalankan tanggung jawab profesional di luar dunia politik. Jabatan ketua umum membutuhkan keterlibatan hampir setiap hari karena harus mengurus organisasi nasional, komunikasi dengan pengurus daerah, konsolidasi kader, hingga mengambil keputusan mengenai sikap politik. Sementara itu, kepemimpinan sebuah institusi pendidikan juga memiliki tanggung jawab administratif dan akademik yang tidak dapat dilakukan hanya pada waktu tertentu. Mobilitas Yogyakarta-Jakarta membuat beban tersebut semakin berat dan akhirnya memengaruhi kondisi kesehatan Ridho. Keputusan untuk memilih salah satu fokus menjadi langkah yang menurut jajaran partai dapat dipahami berdasarkan kondisi tersebut. Pengunduran diri juga dilakukan melalui mekanisme tertulis sehingga proses pergantian dapat berlangsung sesuai ketentuan organisasi. Majelis Syura kemudian mengambil keputusan dalam forum resmi sebelum mengumumkan kepemimpinan sementara. Mekanisme tersebut sekaligus digunakan untuk menjaga kesinambungan organisasi setelah dua pejabat tertinggi partai mengundurkan diri secara bersamaan.
Ridho menegaskan berakhirnya masa jabatan sebagai ketua umum tidak berarti dirinya memutus hubungan dengan perjuangan maupun orang-orang yang selama ini bekerja bersamanya di Partai Ummat. Pengalaman memimpin sejak masa awal pembentukan partai menjadi bagian penting dalam perjalanan pribadinya. Ia telah melewati proses membangun struktur, menghadapi verifikasi peserta pemilu, berkampanye, serta membawa partai mengikuti pemilihan umum nasional untuk pertama kalinya. Kini dirinya memilih memberikan porsi lebih besar terhadap dunia pendidikan dan pengembangan teknologi yang sejak awal menjadi bidang keahliannya. Dukungan Amien terhadap keputusan tersebut membuat proses pergantian berlangsung tanpa pertentangan terbuka antara keduanya. Hubungan keluarga maupun komunikasi politik disebut tetap berjalan sebagaimana sebelumnya. Ridho juga tetap memiliki ruang untuk memberikan pandangan maupun kontribusi apabila dibutuhkan meskipun tidak lagi memegang posisi tertinggi dalam kepengurusan. Pilihan tersebut sekaligus membuka babak baru bagi dirinya setelah lebih dari lima tahun berada di garis depan kepemimpinan Partai Ummat.
Pergantian ketua umum kini membuat perhatian beralih kepada arah kepemimpinan Partai Ummat setelah era Ridho Rahmadi. Ansufri Idrus Sambo dan Muhammad Sadiq akan menjalankan tugas sementara sebagai ketua umum dan sekretaris jenderal sampai terdapat keputusan lebih lanjut dari mekanisme internal partai. Majelis Syura memiliki tanggung jawab memastikan transisi berjalan tertib sekaligus menentukan langkah organisasi menghadapi agenda politik berikutnya. Sementara itu, Ridho akan lebih banyak mencurahkan waktu untuk dunia pendidikan dan kecerdasan buatan di Yogyakarta setelah beban aktivitas politiknya berkurang. Pesan Amien Rais agar dirinya tetap memberikan manfaat melalui bidang yang dikuasainya menjadi salah satu hal yang dibawa Ridho setelah meninggalkan kursi ketua umum. Keputusan tersebut menunjukkan pengabdian kepada masyarakat tidak harus selalu dilakukan melalui jabatan politik karena jalur pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi juga memiliki peran penting. Bagi Partai Ummat, mundurnya ketua umum pertama menjadi momentum untuk melakukan regenerasi sekaligus mengevaluasi perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir. Sedangkan bagi Ridho, pengunduran diri tersebut menjadi titik perubahan untuk kembali memberikan perhatian penuh kepada bidang yang telah lama menjadi bagian utama perjalanan akademik dan profesionalnya.