Jakarta, 30 September 2026 – Toyota tengah mempelajari rencana pemerintah yang menargetkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik mencapai 60 persen mulai 2027. Target tersebut menjadi perhatian produsen otomotif karena membutuhkan penyesuaian pada rantai pasok, kapasitas pemasok lokal, hingga strategi produksi kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Toyota menyatakan akan mengikuti perkembangan regulasi sekaligus menghitung kesiapan ekosistem industri pendukung. Perusahaan juga perlu memastikan peningkatan penggunaan komponen lokal tetap sejalan dengan standar kualitas dan keamanan kendaraan. Kajian dilakukan menjelang berakhirnya sejumlah skema insentif impor kendaraan listrik yang diberikan pemerintah.
Peningkatan TKDN menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mendorong industri kendaraan listrik berkembang lebih dalam di dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan membuat investasi tidak berhenti pada penjualan kendaraan, tetapi berlanjut pada pembangunan fasilitas produksi serta penguatan industri komponen. Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar pula bagian proses produksi yang diharapkan berlangsung di Indonesia. Kondisi itu berpotensi membuka kesempatan lebih luas bagi perusahaan komponen nasional untuk masuk ke rantai pasok kendaraan listrik. Namun, produsen membutuhkan waktu untuk menyesuaikan struktur produksi dengan target yang ditetapkan.
Toyota menilai penerapan TKDN kendaraan listrik perlu dilihat secara menyeluruh karena struktur komponennya berbeda dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal. Baterai menjadi salah satu komponen bernilai tinggi yang mempunyai pengaruh besar terhadap perhitungan kandungan lokal kendaraan listrik. Selain baterai, terdapat motor listrik, sistem pengendali daya, perangkat elektronik, hingga berbagai komponen pendukung yang harus memenuhi standar tertentu. Ketersediaan pemasok lokal untuk komponen-komponen tersebut akan menentukan kemampuan produsen meningkatkan TKDN. Karena itu, perkembangan industri baterai dan komponen elektrifikasi domestik menjadi faktor penting dalam memenuhi target pemerintah.
Bagi Toyota, lokalisasi sebenarnya bukan hal baru karena perusahaan telah memiliki kegiatan manufaktur dan jaringan pemasok yang luas di Indonesia. Sejumlah model kendaraan yang diproduksi di dalam negeri telah menggunakan komponen lokal dalam porsi besar. Tantangan berikutnya adalah membawa tingkat lokalisasi tersebut ke kendaraan berbasis baterai yang memiliki struktur teknologi berbeda. Perusahaan perlu menghitung kebutuhan investasi baru sekaligus kesiapan pemasok untuk memproduksi komponen dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Penguatan kemampuan pemasok lokal juga diperlukan agar peningkatan TKDN tidak mengurangi konsistensi kualitas produk.
Target 60 persen juga berkaitan dengan arah kebijakan pemerintah setelah masa fasilitas impor kendaraan listrik berakhir. Produsen yang sebelumnya memanfaatkan insentif untuk mendatangkan kendaraan listrik utuh secara bertahap diarahkan membangun kemampuan produksi di Indonesia. Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah lebih besar bagi industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan sumber daya mineral dan industri baterai yang telah berkembang di dalam negeri. Dengan demikian, peningkatan TKDN menjadi bagian dari strategi industrialisasi kendaraan listrik jangka panjang.
Toyota selama ini memilih pendekatan multi-pathway dalam pengembangan kendaraan rendah emisi di Indonesia. Strategi tersebut mencakup kendaraan hybrid, plug-in hybrid, kendaraan listrik berbasis baterai, serta teknologi elektrifikasi lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan kesiapan infrastruktur. Kehadiran regulasi TKDN yang lebih tinggi akan menjadi salah satu faktor dalam menentukan pengembangan produk berikutnya. Selain regulasi, perusahaan juga mempertimbangkan permintaan konsumen, infrastruktur pengisian daya, harga kendaraan, serta kemampuan industri pendukung. Seluruh faktor tersebut saling berkaitan dalam menentukan kecepatan pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional.
Kajian Toyota terhadap target TKDN 60 persen menunjukkan bahwa fase pengembangan kendaraan listrik Indonesia mulai bergerak dari pemberian insentif menuju penguatan produksi lokal. Tantangan berikutnya adalah memastikan industri komponen domestik mampu mengikuti kebutuhan teknologi yang berkembang cepat. Kolaborasi antara produsen kendaraan, pemasok, industri baterai dan pemerintah akan menjadi bagian penting dalam mencapai tingkat lokalisasi yang ditargetkan. Bagi konsumen, peningkatan produksi lokal juga diharapkan dapat memperluas pilihan sekaligus menciptakan struktur harga kendaraan listrik yang semakin kompetitif. Toyota akan terus mempelajari ketentuan yang disiapkan pemerintah sebelum menentukan langkah produksi dan investasi berikutnya.