Jakarta, 10 September 2026 – PT Vale Indonesia Tbk memastikan pengembangan fasilitas pengolahan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara, tetap berjalan sesuai target yang telah ditetapkan perusahaan. Kedua proyek tersebut merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) yang dikembangkan untuk memperbesar kapasitas pengolahan nikel nasional sekaligus mendukung rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik. Vale terus memantau penyelesaian konstruksi, kesiapan tambang, ketersediaan bijih, hingga fasilitas pendukung sebelum proyek memasuki tahap operasi penuh. Proyek Pomalaa menjadi salah satu investasi terbesar perusahaan dengan nilai sekitar 4,5 miliar dolar AS, sedangkan pengembangan di Morowali memiliki nilai investasi sekitar 2 miliar dolar AS. Perseroan menilai penyelesaian kedua proyek menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang Vale di Indonesia.
Di Pomalaa, proyek yang dikembangkan Vale bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor menggunakan teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL). Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 120 ribu ton nikel per tahun dalam produk mixed hydroxide precipitate atau MHP yang menjadi salah satu bahan penting untuk industri baterai kendaraan listrik. Selain nikel, fasilitas tersebut diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 15 ribu ton kobalt yang terkandung dalam MHP setiap tahun. Pengembangan proyek mencakup kegiatan pertambangan bijih nikel dan pembangunan fasilitas pengolahan beserta berbagai infrastruktur pendukungnya. Konstruksi proyek telah berlangsung sejak November 2023 dan terus bergerak menuju tahap penyelesaian. Vale juga menyiapkan sistem pengelolaan lingkungan untuk mendukung operasional fasilitas dalam jangka panjang.
Kesiapan pasokan bijih menjadi salah satu perhatian utama sebelum fasilitas pengolahan mulai beroperasi. Vale sebelumnya menyebut kebutuhan pabrik HPAL Pomalaa dapat mencapai sekitar 21 juta ton limonit per tahun, sementara kegiatan penambangan juga menghasilkan sekitar tujuh juta ton saprolit yang perlu dikelola dalam rencana produksi. Perusahaan karena itu perlu memastikan ketersediaan stok bijih sejak sebelum fasilitas memasuki tahap operasi. Persiapan tersebut diperlukan agar proses pengolahan dapat berlangsung stabil setelah seluruh sistem pabrik dinyatakan siap. Pada awal 2026, kegiatan pertambangan Pomalaa juga telah memasuki tahapan penting dengan dimulainya penjualan perdana bijih nikel. Perkembangan tersebut menandai transisi bertahap proyek dari fase konstruksi menuju aktivitas yang mulai menghasilkan pendapatan.
Sementara itu, proyek Morowali dikembangkan sebagai kawasan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan fasilitas yang diarahkan untuk mendukung produksi bahan baku industri baterai. Nilai investasi proyek tersebut mencapai sekitar 2 miliar dolar AS dan dilengkapi berbagai infrastruktur, termasuk fasilitas pelabuhan dan pasokan energi. Kapasitas fasilitas pengolahan dirancang berada pada kisaran 60 ribu hingga 73 ribu ton nikel per tahun, bergantung pada konfigurasi fasilitas yang dikembangkan. Vale menjalankan operasi tambang, sementara pengembangan fasilitas pengolahan melibatkan perusahaan mitra dalam struktur proyek. Perusahaan juga mengintegrasikan aspek rehabilitasi lahan, pengendalian sedimentasi, dan pengelolaan lingkungan dalam aktivitas pertambangan. Penyelesaian fasilitas pengolahan Morowali ditargetkan berlangsung pada 2027.
Aktivitas tambang di Morowali sendiri telah memasuki fase operasional lebih awal dibandingkan penyelesaian seluruh fasilitas pengolahannya. Vale mencatat penjualan perdana bijih dari IGP Morowali dilakukan pada 26 Juli 2025 setelah kegiatan first cut berhasil dilaksanakan. Hingga awal 2026, proyek tersebut dilaporkan telah mencatat penjualan sekitar 2,2 juta ton bijih. Perkembangan itu menunjukkan bagian pertambangan telah mulai berkontribusi ketika pembangunan fasilitas pengolahan terus diselesaikan. Tambang Bahodopi nantinya diproyeksikan memasok sekitar 10,4 juta ton limonit dan 5,5 juta ton saprolit setiap tahun untuk mendukung kebutuhan fasilitas pengolahan. Ketersediaan pasokan tersebut menjadi faktor penting agar fasilitas dapat segera meningkatkan produksi setelah memasuki tahap operasi.
Vale juga memberikan perhatian terhadap kesiapan lingkungan seiring meningkatnya aktivitas pertambangan di Morowali. Hingga akhir Januari 2026, perusahaan telah melakukan hydroseeding pada lahan sekitar 26 hektare sebagai bagian dari rehabilitasi area terdampak aktivitas pertambangan. Perusahaan juga meresmikan fasilitas pembibitan dengan kapasitas sekitar 400 ribu bibit per tahun untuk mendukung reklamasi lahan bekas tambang. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menerapkan standar lingkungan yang sebelumnya dikembangkan di operasi Sorowako. Infrastruktur pengendalian efluen dan sedimentasi turut menjadi bagian dari pengelolaan area tambang. Vale menyatakan pertumbuhan produksi perlu berjalan bersamaan dengan pengelolaan dampak lingkungan dan pemulihan lahan.
Proyek Pomalaa juga dirancang dengan sejumlah fasilitas pengelolaan lingkungan. Kawasan tersebut akan dilengkapi fasilitas pengolahan limbah padat, kolam sedimentasi, pengolahan air limbah, pengelolaan air lindi, hingga penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun. Sistem pengendalian emisi udara turut disiapkan sebagai bagian dari fasilitas pengolahan. Vale dan Huayou juga telah menyepakati penggunaan sumber energi non-batubara untuk mendukung proyek tersebut. Langkah ini menjadi penting mengingat produk MHP yang dihasilkan akan masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik yang semakin menuntut pengurangan jejak karbon dari proses produksinya. Perseroan berupaya membawa praktik operasional yang telah diterapkan di Sorowako ke kawasan pengembangan baru tersebut.
Secara keseluruhan, Vale mengembangkan tiga proyek pengolahan nikel besar di Sulawesi yang berlokasi di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Jika seluruh fasilitas terealisasi sesuai rancangan, kapasitas gabungan proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar 246 ribu ton MHP per tahun. Pomalaa menjadi proyek dengan kapasitas terbesar sekitar 120 ribu ton, sementara proyek Morowali berada di kisaran 60 ribu ton lebih. Pengembangan tersebut memperlihatkan perubahan arah bisnis Vale dari operasi yang selama bertahun-tahun terkonsentrasi di Sorowako menuju jaringan pertambangan dan pengolahan yang lebih luas. Ekspansi itu juga mendukung kebijakan hilirisasi mineral Indonesia dengan meningkatkan jumlah nikel yang diproses menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri. Keberhasilan penyelesaian proyek akan menentukan tambahan kapasitas produksi Vale dalam beberapa tahun mendatang.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, proyek di Morowali dan Pomalaa diproyeksikan memberikan efek ekonomi terhadap daerah melalui penciptaan lapangan kerja, aktivitas kontraktor, pengadaan barang dan jasa, serta tumbuhnya kegiatan ekonomi pendukung. Kehadiran fasilitas pengolahan membuat rantai ekonomi tidak berhenti pada aktivitas penambangan karena sebagian bijih akan diproses lebih lanjut di sekitar wilayah produksi. Produk MHP yang dihasilkan kemudian dapat menjadi bahan baku lanjutan untuk industri baterai kendaraan listrik. Posisi tersebut membuat proyek Vale berkaitan langsung dengan upaya Indonesia membangun ekosistem industri berbasis mineral kritis. Namun, skala proyek yang besar juga membuat kesiapan energi, infrastruktur, lingkungan, serta pasokan bijih perlu dikelola secara konsisten. Keterlambatan pada salah satu komponen dapat memengaruhi jadwal peningkatan produksi secara keseluruhan.
Vale karena itu terus menjaga penyelesaian proyek secara bertahap dengan menyesuaikan jadwal konstruksi dan kesiapan operasional masing-masing kawasan. Pomalaa telah memasuki fase transisi yang semakin dekat dengan operasional fasilitas pengolahan, sedangkan pengembangan Morowali diarahkan menuju penyelesaian pabrik pada 2027. Aktivitas penambangan di kedua kawasan telah bergerak lebih dahulu sehingga perusahaan dapat membangun stok dan memastikan kesiapan pasokan bahan baku. Setelah fasilitas pengolahan beroperasi penuh, tambahan produksi MHP akan memperbesar kontribusi Vale terhadap rantai pasok industri baterai di Indonesia. Perseroan juga harus memastikan peningkatan kapasitas tersebut berjalan seiring dengan reklamasi, pengelolaan limbah, dan penggunaan energi yang lebih rendah emisi. Penyelesaian proyek Morowali dan Pomalaa sesuai target menjadi salah satu tahapan utama transformasi Vale menuju bisnis nikel terintegrasi yang semakin besar di Indonesia.