Jakarta, 9 September 2026 – Nama Alexandr Wang kembali menjadi perhatian setelah pengusaha teknologi yang kini memegang posisi penting dalam pengembangan kecerdasan buatan di Meta itu mendorong generasi muda untuk menguasai vibe coding. Wang menilai perkembangan perangkat AI telah menciptakan momentum yang mirip dengan kemunculan komputer personal beberapa dekade lalu, ketika orang-orang yang lebih awal mempelajari teknologi memperoleh keuntungan besar dalam ekonomi digital. Ia bahkan menyarankan remaja berusia sekitar 13 tahun menghabiskan banyak waktu bereksperimen menggunakan perangkat pengodean berbasis AI. Menurut Wang, pengalaman ribuan jam berinteraksi dengan teknologi tersebut dapat memberikan keunggulan ketika AI semakin terintegrasi dengan pekerjaan dan bisnis. Pandangannya menarik perhatian karena datang dari sosok yang membangun karier dan kekayaan melalui industri kecerdasan buatan.
Wang merupakan pengusaha teknologi kelahiran Los Alamos, New Mexico, Amerika Serikat, yang dikenal sebagai salah satu pendiri Scale AI. Berdasarkan profil terbarunya, Wang kini berusia 29 tahun dan memiliki estimasi kekayaan sekitar USD3,2 miliar. Ia memang pernah menyandang status miliarder mandiri termuda di dunia, tetapi gelar tersebut tidak lagi dipegangnya setelah pendiri Polymarket Shayne Coplan melewatinya pada Oktober 2025. Karena itu, penyebutan Wang sebagai “miliarder termuda di dunia” saat ini perlu ditempatkan dalam konteks perjalanan kariernya, bukan status terkini. Meski demikian, pencapaiannya tetap luar biasa karena ia berhasil mencapai status miliarder ketika masih berada pada usia pertengahan 20-an.
Perjalanan Wang menuju industri teknologi dimulai jauh sebelum dirinya mendirikan perusahaan. Ia tumbuh di Los Alamos dalam keluarga yang sangat dekat dengan dunia sains, dengan kedua orang tuanya bekerja sebagai fisikawan. Sejak usia muda, Wang sudah menunjukkan ketertarikan terhadap matematika, fisika, dan pemrograman serta mengikuti berbagai kompetisi akademik. Ketika berusia 17 tahun, ia bahkan telah memperoleh pekerjaan teknik penuh waktu di Silicon Valley, termasuk di perusahaan teknologi finansial Addepar dan platform tanya jawab Quora. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan mengenal budaya perusahaan teknologi ketika sebagian besar anak seusianya masih berada di bangku sekolah.
Wang kemudian masuk Massachusetts Institute of Technology atau MIT dan mempelajari machine learning, tetapi perjalanan akademiknya tidak berlangsung lama. Setelah sekitar satu tahun, ia meninggalkan kampus dan memilih mengikuti program akselerator Y Combinator untuk membangun perusahaan. Pada 2016, ketika masih berusia 19 tahun, Wang bersama Lucy Guo mendirikan Scale AI. Perusahaan tersebut berkembang dengan menyediakan data dan infrastruktur yang diperlukan untuk melatih sistem kecerdasan buatan serta machine learning. Scale pada awalnya memperoleh momentum dari kebutuhan industri kendaraan otonom terhadap data berlabel sebelum kemudian memperluas bisnis ke berbagai sektor, termasuk pengembangan AI generatif.
Perkembangan industri AI kemudian membuat posisi Scale AI semakin strategis. Perusahaan tersebut menyediakan layanan data yang digunakan berbagai perusahaan teknologi untuk melatih dan meningkatkan kemampuan model kecerdasan buatan. Pada Juni 2025, Meta menginvestasikan sekitar USD14,3 miliar untuk memperoleh 49 persen saham Scale dalam kesepakatan yang membuat perusahaan itu memiliki valuasi lebih dari USD29 miliar. Wang meninggalkan jabatan CEO Scale dan bergabung dengan Meta untuk memimpin upaya perusahaan dalam pengembangan AI tingkat lanjut atau superintelligence. Perubahan tersebut membuat Wang tidak lagi sekadar dikenal sebagai pendiri startup, tetapi juga menjadi salah satu figur penting dalam strategi AI Meta.
Di tengah perkembangan tersebut, Wang memberikan perhatian khusus terhadap vibe coding, pendekatan pengembangan perangkat lunak dengan memanfaatkan AI untuk menghasilkan kode berdasarkan instruksi bahasa sehari-hari. Pengguna tidak selalu harus menulis setiap baris kode secara manual karena dapat menjelaskan aplikasi atau fitur yang diinginkan kepada perangkat AI, kemudian meminta sistem menghasilkan struktur program. Prosesnya dilanjutkan melalui instruksi, pengujian, koreksi, dan penyempurnaan secara berulang. Pendekatan seperti ini membuat pembuatan perangkat lunak menjadi lebih mudah diakses oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pemrograman mendalam. Wang melihat kemampuan memanfaatkan perangkat tersebut sebagai keterampilan yang berpotensi semakin bernilai dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam percakapannya di sebuah siniar teknologi, Wang mengatakan remaja mempunyai keuntungan yang tidak selalu dimiliki orang dewasa, yakni waktu untuk bereksperimen secara intensif dengan teknologi baru. Ia menggambarkan seseorang yang menghabiskan sekitar 10.000 jam memahami perangkat AI dapat memiliki keunggulan besar dibandingkan orang lain yang baru mempelajarinya kemudian. Wang membandingkan situasi sekarang dengan generasi awal komputer personal yang melahirkan figur seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Menurut pandangannya, generasi yang tumbuh bersama AI berpeluang memperoleh keuntungan serupa apabila menggunakan waktunya untuk memahami teknologi tersebut sejak dini. Pernyataannya mengenai remaja berusia 13 tahun yang sebaiknya banyak melakukan vibe coding merupakan penekanan terhadap pentingnya eksperimen dan penguasaan perangkat AI sedini mungkin.
Pandangan Wang juga didasarkan pada perkiraannya bahwa kemampuan AI menghasilkan perangkat lunak akan meningkat sangat cepat. Ia memperkirakan dalam beberapa tahun mendatang model AI dapat menghasilkan kode dalam volume yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan seorang programmer secara individual. Menurut Wang, bahkan keseluruhan kode yang pernah ditulisnya sepanjang hidup dapat ditandingi oleh kemampuan produksi sebuah model AI dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi tersebut tidak berarti pengetahuan dasar pemrograman kehilangan seluruh nilainya, tetapi dapat mengubah cara manusia membangun perangkat lunak. Kemampuan merumuskan masalah, memberikan instruksi yang tepat, memeriksa keluaran AI, memahami kesalahan, serta menentukan produk yang benar-benar berguna dapat menjadi semakin penting.
Fenomena vibe coding sendiri menunjukkan bahwa batas antara programmer dan pengguna biasa mulai berubah. Seseorang yang sebelumnya tidak mampu membangun aplikasi karena tidak menguasai bahasa pemrograman kini dapat membuat prototipe melalui percakapan dengan AI. Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan kehati-hatian karena kode yang dihasilkan AI dapat mengandung kesalahan, masalah keamanan, ketergantungan yang tidak diperlukan, atau keputusan teknis yang kurang tepat. Karena itu, menguasai vibe coding bukan sekadar memberikan perintah kepada AI, melainkan juga memahami cara mengevaluasi dan memperbaiki hasil yang diberikan. Semakin kompleks aplikasi yang dibuat, semakin penting pula pemahaman mengenai logika pemrograman, keamanan, pengujian, dan arsitektur perangkat lunak.
Perjalanan Alexandr Wang menunjukkan bagaimana perubahan teknologi dapat menciptakan jalur karier baru dalam waktu relatif singkat. Dari remaja yang menekuni matematika dan pemrograman, mahasiswa MIT yang memilih keluar dari kampus, pendiri Scale AI pada usia 19 tahun, hingga menjadi miliarder dan kemudian memimpin strategi AI Meta, sebagian besar kariernya berkembang bersamaan dengan pesatnya industri kecerdasan buatan. Kini ia melihat vibe coding sebagai salah satu pintu masuk bagi generasi berikutnya untuk mengambil bagian dalam gelombang teknologi tersebut. Pesan utamanya bukan bahwa setiap remaja harus meninggalkan pendidikan formal atau menjadi programmer, melainkan bahwa mereka yang lebih cepat bereksperimen dan memahami perangkat AI berpotensi memiliki bekal lebih besar menghadapi perubahan dunia kerja. Di tengah AI yang terus berkembang, kemampuan menggunakan teknologi secara kreatif sekaligus memahami keterbatasannya dapat menjadi salah satu keterampilan penting bagi generasi muda.